Warga binaan Detikriaunewscom Lapas Nusakambangan mengikuti pelatihan konveksi dan belajar menjahit sebagai bekal keterampilan untuk bekerja setelah bebas.
Kamis, 8 Oktober 2026
Menjalani masa pidana tidak menghalangi warga binaan untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah bebas.
Sejumlah narapidana di Lapas Nusakambangan mengikuti pelatihan keterampilan konveksi, mulai dari menjahit hingga mengoperasikan mesin produksi.
Pelatihan tersebut memberikan kesempatan bagi warga binaan untuk mempelajari keterampilan yang sebelumnya belum pernah mereka kuasai. Salah seorang warga binaan mengaku baru mengenal pekerjaan konveksi setelah mengikuti pelatihan selama sekitar dua bulan.
Kini, ia sudah mampu mengoperasikan sejumlah mesin, termasuk mesin obras, serta mengerjakan berbagai bagian pakaian seperti memasang stik dan kerah.
“Baru di sini, baru dua bulan belajar,” ujarnya saat ditemui dalam kegiatan pelatihan.
Warga binaan yang menjalani pidana terkait kasus narkoba itu mengatakan keterampilan yang diperolehnya menjadi pengalaman baru selama menjalani masa pembinaan.
Selain mendapatkan keterampilan, warga binaan juga berkesempatan memperoleh hasil dari pekerjaan yang dilakukan. Namun, karena baru mengikuti pelatihan sekitar dua bulan dan belum mencapai target, hasil yang diterimanya masih relatif sedikit.
Ia mengatakan hasil tersebut digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan selama menjalani masa pidana.
“Buat tambah makan di sini,” katanya.
Ia berharap keterampilan yang dipelajari dapat menjadi bekal untuk menjalani kehidupan secara lebih baik. Menurutnya, pekerjaan apa pun harus dijalani dengan ikhlas selama memberikan penghasilan yang halal.
“Jalani hidup yang normal saja, dengan kerja dengan ikhlas. Walaupun hasil nggak seberapa, yang penting halal,” ujarnya.
Sementara itu, warga binaan lainnya, Disaya, mengaku baru pertama kali mengikuti kegiatan menjahit. Selama mengikuti pelatihan, ia mulai menguasai sejumlah keterampilan, seperti menjahit dan memotong bahan.
“Belum, baru pertama kali,” kata Disaya ketika ditanya apakah sebelumnya pernah melakukan pekerjaan tersebut.
Disaya yang berasal dari Jawa Tengah itu masih memiliki masa pidana sekitar satu setengah tahun. Setelah bebas, ia berencana memanfaatkan keterampilan yang diperolehnya selama di lapas untuk membuka usaha sendiri.
“Insya Allah,” ujarnya ketika ditanya mengenai rencana membuka usaha setelah bebas.
Ia juga mengaku telah menerima hasil dari kegiatan tersebut dan sempat mengirimkannya kepada orang tua.
Bagi Disaya, pelatihan konveksi memberikan manfaat karena keterampilan yang sebelumnya belum dimiliki kini mulai dikuasai. Ia berharap kemampuan tersebut dapat terus dikembangkan hingga menjadi bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.
Target Libatkan 500 Warga Binaan
Pengembangan keterampilan konveksi di lingkungan warga binaan juga diarahkan dalam skala yang lebih besar.
Direktur Utama PT Sentosa Garmindo, Pratama Ananda, mengatakan program tersebut menargetkan keterlibatan hingga 500 warga binaan.
Saat ini, sebanyak 86 warga binaan telah mengikuti kegiatan yang sedang berjalan. Jumlah tersebut diharapkan terus bertambah sehingga semakin banyak warga binaan mendapatkan kesempatan memperoleh keterampilan dan pengalaman kerja.
“Menargetkan warga binaan 500 orang, yang sedang berjalan 86 orang,” ujar Pratama.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan sebagai pelatihan keterampilan, tetapi juga memiliki orientasi produksi. Dengan demikian, warga binaan dapat belajar dalam suasana kerja yang lebih nyata sekaligus menghasilkan produk.
Pratama juga mengatakan program tersebut dirancang agar keterampilan yang diperoleh warga binaan dapat benar-benar dimanfaatkan setelah mereka bebas. Bagi warga binaan yang mengikuti program selama tiga tahun, PT Sentosa Garmindo menyiapkan pembekalan berupa mesin jahit.
“Setelah mengikuti program di PT Sentosa Garmindo selama tiga tahun, pulang dibekali satu buah mesin jahit jarum satu,” ujar Pratama.
Pasar yang dibidik juga cukup luas. Produk konveksi ditargetkan dapat memenuhi kebutuhan seragam sekolah, department store, hingga pasar ekspor.
Pengembangan tersebut diharapkan membuka peluang agar hasil produksi warga binaan memiliki nilai ekonomi dan dapat bersaing di pasar.
Dari sisi kapasitas, program ini ditargetkan mampu menghasilkan produksi hingga 200 ribu potong pakaian dalam satu bulan. Target tersebut menunjukkan besarnya potensi kegiatan konveksi apabila pengembangan sumber daya manusia dan kapasitas produksi berjalan secara bertahap.
Bagi warga binaan, keterlibatan dalam kegiatan produksi memberikan pengalaman yang berbeda dibanding hanya mengikuti pembinaan secara teori. Mereka dapat belajar mengenal mesin, proses menjahit, pemotongan bahan, hingga tahapan produksi pakaian.
Keterampilan tersebut diharapkan menjadi modal ketika warga binaan menyelesaikan masa pidana dan kembali ke tengah masyarakat.
Bagi mereka yang memiliki minat berwirausaha, kemampuan menjahit juga dapat dikembangkan menjadi usaha mandiri.
Sementara bagi warga binaan yang memilih bekerja, pengalaman selama mengikuti kegiatan konveksi dapat menjadi bekal untuk mencari pekerjaan setelah bebas.
Program tersebut pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai produksi pakaian, tetapi juga bagaimana masa pembinaan dapat dimanfaatkan untuk membangun kemampuan produktif.
Seperti disampaikan salah seorang warga binaan, pekerjaan tidak harus menghasilkan banyak selama dilakukan dengan ikhlas dan memberikan penghasilan yang halal. Editor Wawan
Keterampilan yang diperoleh di dalam lapas pun diharapkan tidak berhenti ketika masa pidana berakhir, tetapi dapat menjadi bagian dari perjalanan warga binaan untuk kembali menjalani kehidupan secara normal di masyarakat.



