Rohil -detikriaunews.com,
Setiap 1 Mei, bangsa ini ramai meneriakkan “buruh sejahtera”. Spanduk dibentangkan, pidato menggema, janji ditebar. Tapi begitu mikrofon dimatikan, yang tersisa hanya derita yang tak berubah.
Buruh pabrik menuntut upah layak. Buruh tani menuntut harga panen adil. Dan ada satu lagi buruh yang suaranya paling jarang terdengar: kuli tinta.
Mahluddin Ritonga selaku ketua Dewan pimpinan cabang Aliansi wartawan indonesia (DPC -AWI ) kabupaten rokan hilir menjelaskan pada awak media ,Wartawan bekerja di garis depan demokrasi. Mereka memburu fakta di tengah ancaman, menulis kebenaran di tengah tekanan, mempertaruhkan nyawa demi publik tahu. Tapi ironisnya, profesi yang disebut “pilar keempat demokrasi” ini justru paling rapuh secara ekonomi dan perlindungan.
Di Rohil, ceritanya tak jauh berbeda. Banyak wartawan lokal yang honornya tak cukup untuk hidup layak. Kontrak kerja tak jelas, jaminan sosial nihil, perlindungan hukum saat diintimidasi sering kali nol besar. Mereka dipaksa memilih: bermitra dengan kekuasaan demi bertahan, atau berjalan sendiri dengan risiko dihantam balik.
Inilah ironi yang pahit. Demokrasi kita berdiri di atas informasi yang ditulis wartawan, tapi negara dan swasta enggan memastikan penulisnya hidup sejahtera. Kita menuntut pers bebas, tapi tak memberi ruang bagi pers untuk bebas dari lapar.
Hari Buruh seharusnya jadi cermin. Jika negara benar hadir untuk buruh, maka wartawan juga harus masuk dalam hitungan itu. Upah layak, kontrak jelas, jaminan keselamatan kerja bukan privilese, tapi hak dasar. Tanpa itu, tagar “Pers Juga Buruh Demokrasi” hanya jadi slogan kosong.
*Tuntutan konkret untuk Pemkab Rohil:*
1. *Bayar lunas kontrak kerja sama media yang sudah selesai dikerjakan*. Hingga hari ini masih banyak yang belum dibayarkan. Jangan biarkan kuli tinta menagih keringatnya sendiri.
2. *Terapkan kontrak kerja jelas dan tepat waktu* untuk setiap kerja sama publikasi tahun anggaran berjalan.
3. *Jaminan perlindungan hukum* bagi jurnalis yang menjalankan tugas sesuai UU Pers, bukan malah diintimidasi saat kritis.
Kesejahteraan buruh adalah cerminan kekuatan ekonomi. Kesejahteraan kuli tinta adalah cerminan kekuatan demokrasi. Jika dua-duanya diabaikan, maka yang tumbuh bukan bangsa yang kuat, tapi bangsa yang rapuh dari dalam.
Rohil tidak butuh pujian di pidato. Rohil butuh pembayaran yang sudah jatuh tempo. Karena ketika kuli tinta sejahtera, demokrasi kita pun ikut selamat.
Rilis resmi AWI rohil .



